Berita dan Informasi
Rangkaian Acara Maulid Nabi Muhammad. SAW, Ahad 09 Oktober 2022. Ceramah Maulid Oleh Ust. KH. Daud Hendi Ismail. S.Pd.I
——–
Taklim Bapak-Bapak Rutin Ahad Ba:da Sholat Shubuh.. 28 Agustus 2022. Lanjutan Tafsir Al-Qur’anul Karim Surah Al Fajr Ayat 21 – 32
Ustadz.. H. Saiful Bahri, S.Hi
UNDANGAN TAKLIM SABTU SHUBUH
Lanjutan Kajian Hadits ARBAIIN
disampaikan oleh : Ustadz. H. Sahidi, M. Ag.
ARTIKEL
HAKIKAT JASAD & ROH (bagian 1) Oleh : Ustadz DR. Musthafa Umar. Lc.MA https://youtu.be/iQWEpVGo750
ARTIKEL 2
https://youtu.be/lkDTVkhhcC4 Tausiah. Ustadz. DR. Musthafa Umar. Lc. MA Tentang Hakikat Jasad & Roh (Bagian 2)
Pengajian Remaja Masjid Jami’ Baitul Husna (IRHAMNA)
Pengajian Rutin Mingguan, Setiap ahad ba’da Isya, Remaja Masjid Jami’ Baitul Husna (IRHAMNA)
Kajian Kitab ARBAIN oleh Ust.Miftakhul Mahmudin, Ahad 17 Oktober 2021
Taklim Ahad Shubuh
kajian lanjutan Hikmah Kitab Al Hikam Tentang dua Golongan Manusia dalam upayanya mengenal Allah oleh : Ustadz.H. Miftakhul Mahmudi.MA Ahad, 03 Oktober 2021 https://youtu.be/AGcNEKTPYkY
TAKLIM AHAD SHUBUH
Kajian Lanjutan Hikmah Kitab Al Hikam tentang Dua Golongan Manusia dalam upayanya mengenal Allah.
oleh Ustadz. H. Miftakhul Mahmudi.MA.
Ahad, 03 Oktober 2021
Khutbah Jum’at
KHUTBAH JUM’AT
“Menjaga Kwalitas Amal Sholih Sebagai Bekal Kehidupan”
Khatib : Bhayu Sulistiawan, S.Pd.I
Disampaikan pada shalat Jum’at di Masjid Baitul Husna Harapan Indah
Tanggal 24 Shafar 1443 H / 1 Oktober 2021 M
اَلْحَمْدُ لله الْمَلِكِ الْـحَقِّ الْـمُبِيْن.اَلَّذِيْ حَبَانَابِاالْإِيْـمَانِ وَالْيَقِيْن. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَاَشْهَدُ أَنَّ محمّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه الصَّدِق الْوَعْد الْأَمِيْن. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى أَشْرفِ الْأنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آ لِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمْعِيْن، أَمّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ الله، اُوْصِيْكُمْ وَ نَعفْسِي بِتَقْوَى الله، فَعقَدْ فَازَ ا لْمُتَّـقُوْنَ
فَقَالَ تَعَالى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Ma’aasyiral muslimiin jama’ah shalat Jum’at rohimakumullah….
Segala puji hanya milik Allah SWT., Tuhan semesta alam Yang Maha Kuasa senantiasa telah memberikan nikmat kepada kita semua dalam bentuk yang begitu banyak. Salah satu kenikmatan yang kita rasakan adalah diturunkannya Islam sebagai satu-satunya agama yang benar dan kita menjadi ummatnya yang setia insya Allah. Nikmat sehat juga kita terima sehingga kita bisa menjalankan tugas dan fungsi sebagai hamba dan khalifah.
Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada nabi kita Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya yang istiqomah hingga akhir zaman. Kita senantiasa berdoa dan berusaha terus mengikuti sunnah-sunnahnya sehingga termasuk golongan yang mendapatkan syafa’atul ‘uzhma baginda nabi di akhir nanti. Aamiin.
Dari mimbar yang mulia ini khatib berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah untuk terus meningkatkan ketaqwaan, dengan penuh kesadaran mari kita laksanakan perintah-perintah Allah, kita tinggalkan larangan-larangan-Nya. Dengan begitu Insya Allah kita selamat fiddunya wal akhirah. Aamiin..
Ma’aasyiral muslimiin jama’ah shalat Jum’at rohimakumullah….
Di dalam salah satu kitab bernama “Ayyuhal Walad” karya seorang ulama besar bergelar “Hujjatul Islam” yaitu Imam Al-Ghazali menuliskan pesan kepada seorang muridnya yang berkhidmat belajar bertahun-tahun dengannya. Dalam setiap pesan yang mengandung nasehat luar biasa itu Imam Ghazali selalu memulainya dengan kata “Ayyuhal Walad” (Wahai Anak).
مَالَـمْ تَعْمَلْ لَـمْ تَـجِدِ الْأَجْرَ
“Wahai santriku, selagi kamu belum berbuat amal maka tidak mendapat pahala.”
Imam Ghazali ingin mengingatkan sang murid betapa pentingnya amal perbuatan (amal shalih) dalam menentukan kwalitas perbekalan pahala di dunia untuk menuju akhirat. Sebarapa banyak amal sholih yang kita lakukan berbanding lurus dengan pahala yang kita dapat bahkan dalam beberapa amal ada yang Allah berikan pahala berlipat ganda. Seperti hukum sebab-akibat begitulah juga amal dengan pahala.
Lalu Imam Ghazali pun melanjutkan kisah tentang seorang laki-laki dari Bani Israil yang beribadah kepada Allah selama 70 tahun. Allah ingin menunjukkannya kepada para malaikat. Lalu Allah mengutus malaikat kepadanya untuk memberitahu bahwa dengan ibadah tersebut laki-laki tersebut belum layak baginya masuk surga.
Ketika ahli ibadah itu mendengarnya dari malaikat yang diutus Allah, ia berkata: “Kita diciptakan untuk beribadah, maka memang sepatutnya bagi kita untuk beribadah kepadaNya.”
Malaikat itu pun kembali kepada Allah seraya berkata, “Wahai Tuhanku, Engkau lebih mengetahui tentang apa yang diucapkannya.”
Kemudian Allah SWT berfirman, “Apabila hamba itu tidak berpaling dari ibadah kepadaKu, maka Aku –dengan kemuliaanKu– tidak akan berpaling darinya. Saksikan wahai para malaikatKu, bahwa Aku telah memaafkannya.”
Ma’aasyiral muslimiin jama’ah shalat Jum’at rohimakumullah….
Dari kisah diatas bisa kita ambil hikmah dan muhasabah bahwa tugas dan fungsi utama manusia diciptakan Allah adalah sebagai “abdun” (hamba) dan sebagai “khalifah” (pengelola alam raya). Maka fungsi khalifah tidak boleh melanggar batas fungsi sebagai hamba. Semua nikmat di dunia ini Allah berikan gratis untuk kita manfaatkan dan kita kelola tapi tetap harus sesuai koridor/batas ketentuan yang Allah berikan melalui pedoman Al-Qur’an dan hadits Rasulullah SAW.
Tugas sebagai hamba yang diciptakan Allah tak bukan dan tak lain untuk beribadah kepada-Nya. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Adz-Dzariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
Di dalam surat lain Allah lebih spesifik menegaskan bahwa dalam beribadah kepada-Nya juga harus disertai dengan sikap ikhlas.
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
“Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas (memurnikan ketaatan) kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus”. (Q.S. Al-Bayyinah ayat 5)
Ulama membagi tiga macam golongan dalam beribadah. Pertama, tipe “tujjaar” (pedagang). Tipe ini seperti orang yang berdagang yang ingin selalu untung dan tidak ingin rugi. Beribadah dengan niat masuk surga dan dihindarkan dari neraka seakan seperti pedagang. Inilah tipe kita pada umumnya sebagai golongan orang ‘awam. Namun tipe ini tidak salah karena memang kita beribadah juga sebagai sarana ingin meraih surga yang Allah sudah janjikan.
Adapun tipe yang kedua adalah bagi orang-orang khowasul khowas yaitu “ahrorr” (orang yang merdeka). Dalam artian tipe ini merdeka atau bebas dalam beribadah tujuannya bukan lagi surga. Mereka hanya menuju ridho Allah. Sebagaimana kisah orang Bani Israil di atas. Meskipun dikabarkan oleh malaikat bahwa ibadahnya selama 70 tahun tidak layak untuk ke surga tapi orang tersebut tetap akan terus beribadah karena sejatinya kita diciptakan untuk beribadah dan menuju ridha Allah. Ketika Allah sudah ridha maka apapun yang hamba minta akan Allah berikan.
Ma’aasyiral muslimiin jama’ah shalat Jum’at rohimakumullah….
Di dalam hadits nabi Muhammad SAW menjelaskan tentang pentingnya menjadikan agama sebagai basic dari setiap langkah perbuatan yang ditempuh di dunia khususnya niat karena Allah. Menghadirkan agama dalam setiap amal bahkan menjadi sarana kita juga untuk berbekal mempersiapkan kematian, dan mereka tergolong ke dalam orang-orang yang cerdas. Dan sebaliknya, orang yang bodoh adalah mereka yang hanya mengikuti hawa nafsunya tanpa didasari dengan agama. Dia hanya berangan-angan untuk mencapai surga dan pengharapan kepada Allah SWT yang tidak mungkin bisa dicapai karena tanpa amal shalih.
Rasulullah SAW bersabda:
اَلكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْموْتِ، وَالْأَحْمَقُ مَنْ اِتَّبَعَ هَواهُ وتـَمَنَّى عَلَى اللَّهِ. (رواه التِّرْمِذيُّ)
“Orang cerdas adalah orang yang menghadirkan agama dalam dirinya (menaklukkan egonya), dan menyiapkan amal (shalih) untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan mengharapkan sesuatu dari Allah SWT dengan berbagai macam harapan (yang tak mungkin).”
Bahkan Imam Hasan Al-Bashri mengatakan: “Mencari surga tanpa berbuat amal adalah termasuk dosa dari beberapa dosa.” Dengan kata lain, seseorang yang membenamkan diri dalam dosa dan maksiat kepada Allah, tetapi ia berharap memperoleh surga, maka harapannya tentu tertolak.
Sebagai orang beriman tentunya kita berobsesi meraih kecintaan Allah Ta’ala untuk menjadi Muttaqin (orang yang bertaqwa), dihindarkan dari azab kubur diselamatkan dari neraka dan menjadi penghuni surga. Semoga kita senantiasa dikuatkan dalam menjaga kwalitas amal kita sebagai bekal kehidupan kita.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمِا فِيْهِ مِنَ الآَيَاتِ والذِّكْرِالحَكِيْمٍ، وتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَه إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Undangan Taklim Ahad Shubuh
Lanjutan Kajian
HIKMAH AL HIKAM
Ustadz H. Miftakhul Mahmudi, MA.
Kajian Tentang Baitul Mall
Ustadz H. Dwi Condro Triono. PHd https://youtu.be/CrHv-pyGA2g




